Posted by: sutrisno | November 20, 2010

Hari raya Idul Adha

Malam rabu tanggal 20 november 2010,suara takbir bersahut-sahutan dari masjid ,surau ,langgar /mushola mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam. Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah ID dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.
Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109.
Makna yang cukup dalam dan sangat besar sehingga hari raya ini di sebut hari raya besar,karena pengorbanan harta benda biasa nya bagi manusia lebih berat.Karena kalau puasa orang kuat tapi mengihklas perngorbanan harta benda jauh lebih berat,makanya Hari raya ini adakah hari Raya Besar.Bahkan orang di jawa menyebut Ba’Da Besar(Hari raya Besar)
Apalagi lebaran ini ada saudara -saudara kita di Wasior Papua,di Mentawai Sumatera barat dan di daerah gunung Merapi tertimpa Musibah.kita harus saling berbagi meringankan beban Meraka .Kita sebagai Umat Muslim itu adalah saudara saudara kita.bisa di ibarat saudara muslim kita ini adalah anggota tubuh kita ,jika salah satu anggota tubuh kita sakit atau menderita maka anggota tubuh yanglain juga merasakan.Di sini kita di tuntut akan kepekaan kita pada saudara – saudara muslim kita
Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: